CANNONBALL,
Inikah Letupan Baru Jogjakarta?
JOGJAKARTA mungkin termasuk salah satu daerah yang greget ngeband-nya tergolong meriah. Artinya, gairah ngeband dan membentuk band baru, cukup antusias. Meski tentu saja tak semuanya berhasil. Tapi paling tidak, dunia musik di kota pelajar ini bisa disebut hidup.Salah satu yang lahir dari semangat Jogja itu adalah CANNONBALL. Mereka memang hanya berdua, tapi membuat format band. Kok? Banayak yang menyebut mereka terpengaruh dengan duo band macam White Stripes atau Roxette. Benarkah? Kiki Marino [drum] dan Siska Salman [gitar/vokal] membantahnya. "Rasanya belum bisa disebut begitu, karena memang kami tidak ingin meniru siapa-siapa," katanya. Dua personil ini bukan nama baru di kancah musik Joga [dan nasional malah]. Sedikit bercerita ke belakang, Kiki Marino adalah drummer Esnanas. Band ini pernah merilis album nasional beberapa tahun lalu. Kiko juga pernah menjadi additional player Sheila on 7 pasca cabutnya Anton. Esnanas sendiri semenjak urung merilis album ?Hello! Japan? memilih non aktif [atau bubar?].Sementara Siska Salman, bukan nama asing juga. Di Jogjakarta namanya sempat tercatat sebagai vokalis band DeSisters. Makin dikenal ketika muncul sebagai runner-up reality show ?REINKARNASI? di salah satu televisi swasta nasional, awal 2006 silam. Setelah acara itu usai, belum ada kejelasan karirnya mau dibawa kemana. Bertemu Kiki, mereka sepakat mengibarkan bendera Cannonball.Meski mengusung format band dengan duo, Cannoball toh selalu dibantu additonal player ketika mereka main. Beberapa nama yang kerap membantu mereka pun tak jauh dari band-band di seputaran Jogja. Sebutlah Sandy Laquena, Michael Marseides [gitaris asal Australia], atau Fendy Bre.??Tapi siapa saja mungkin kita hubungi untuk kami ajak show,? jelas Kiki.Masih mengusung genre rock, Kiki dan Siska lebih suka menyebut musik mereka dengan "Alternative-Soundtrack-Rock?. Apa itu, mungkin mereka bisa memberikan penjelasan yang lebih detil. Yang jelas, mereka baru saja mini album dibawah bendera Supreme Records. Menariknya, mereka diproduser seorang produser dari Prancis bernama Dominic C. Nama ini juga tercatat sebagai produser band rock asal Perancis Astonvilla [band ini pernah manggung di Jakarta --red].
JOGJAKARTA mungkin termasuk salah satu daerah yang greget ngeband-nya tergolong meriah. Artinya, gairah ngeband dan membentuk band baru, cukup antusias. Meski tentu saja tak semuanya berhasil. Tapi paling tidak, dunia musik di kota pelajar ini bisa disebut hidup.Salah satu yang lahir dari semangat Jogja itu adalah CANNONBALL. Mereka memang hanya berdua, tapi membuat format band. Kok? Banayak yang menyebut mereka terpengaruh dengan duo band macam White Stripes atau Roxette. Benarkah? Kiki Marino [drum] dan Siska Salman [gitar/vokal] membantahnya. "Rasanya belum bisa disebut begitu, karena memang kami tidak ingin meniru siapa-siapa," katanya. Dua personil ini bukan nama baru di kancah musik Joga [dan nasional malah]. Sedikit bercerita ke belakang, Kiki Marino adalah drummer Esnanas. Band ini pernah merilis album nasional beberapa tahun lalu. Kiko juga pernah menjadi additional player Sheila on 7 pasca cabutnya Anton. Esnanas sendiri semenjak urung merilis album ?Hello! Japan? memilih non aktif [atau bubar?].Sementara Siska Salman, bukan nama asing juga. Di Jogjakarta namanya sempat tercatat sebagai vokalis band DeSisters. Makin dikenal ketika muncul sebagai runner-up reality show ?REINKARNASI? di salah satu televisi swasta nasional, awal 2006 silam. Setelah acara itu usai, belum ada kejelasan karirnya mau dibawa kemana. Bertemu Kiki, mereka sepakat mengibarkan bendera Cannonball.Meski mengusung format band dengan duo, Cannoball toh selalu dibantu additonal player ketika mereka main. Beberapa nama yang kerap membantu mereka pun tak jauh dari band-band di seputaran Jogja. Sebutlah Sandy Laquena, Michael Marseides [gitaris asal Australia], atau Fendy Bre.??Tapi siapa saja mungkin kita hubungi untuk kami ajak show,? jelas Kiki.Masih mengusung genre rock, Kiki dan Siska lebih suka menyebut musik mereka dengan "Alternative-Soundtrack-Rock?. Apa itu, mungkin mereka bisa memberikan penjelasan yang lebih detil. Yang jelas, mereka baru saja mini album dibawah bendera Supreme Records. Menariknya, mereka diproduser seorang produser dari Prancis bernama Dominic C. Nama ini juga tercatat sebagai produser band rock asal Perancis Astonvilla [band ini pernah manggung di Jakarta --red].
Album mini berisi 6 lagu, yang semuanya direkam di Lahan Eross studio ini, menawarkan warna musik alternative-rock yang kental dengan distorsi gitar, tetapi dengan melodi vokal yang anthemic dan catchy.
Singles yang dijagokan antara lain ?Kemarin?, ?Seperti Kau dan Aku?, dan alternative ballad berjudul ?Tolong Dengarkan?, yang sudah sering di-request di radio-radio.Bukan sombong kalau duo band ini memilih tidak masuk label besar. "Kami memilih distribusi secara independent, mencoba untuk direct-selling sendiri, biar lebih tepat sasaran,? jelas Kiki.Akankah band ini benar-benar menjadi alternatif baru band Jogja? Tidak tahu juga, tapi paling tidak semangat untuk tetap bermusik itulah yang bisa jadi membuat mereka tetap eksis. Soal diterima atau tidak, tetap saja kamu-kamu yang menentukan. (http://www.djarum-super.com/)
Download Lagunya Disini











